Yuuk Kita Pilih Pemimpin Yang Adil dan Bijaksana
Seperti KITA mengenal
Raja Sulaiman— juga seorang nabi—yang bijak dan adil. Tentang sikap
bijak ini Raja Sulaiman kelihatannya menjadi rujukan istimewa. Beliau
dikenal sebagai Sulaiman yang bijak.
Selebihnya beliau memiliki
derajat istimewa: menguasai bahasa hewan dan berbicara dengan hewan.
Beliau memahami bahasa semut,binatang kecil, tapi juga bahasa binatang
yang besar-besar. Gusti Kanjeng Nabi Muhammad SAW juga pemimpin yang
sangat adil. Kepada para musuh, orang-orang kafir yang mengancam
hidupnya pun beliau bersikap adil, tidak marah, dan tidak mendengki.
Keadilan
merupakan watak istimewa beliau. Dalam salah satu bagian dari kisah
beliau disebutkan, pada suatu hari beliau berjalan-jalan di luar pagar
kebun orang kaya. Tak ada urusan penting bagi beliau untuk memasuki
kebun itu, tapi entah bagaimana, beliau sendiri tak begitu memahaminya,
tapi beliau masuk. Di dekat pintu masuk itu terikatlah seekor induk
domba liar yang wajahnya tampak bersedih.
Ketika beliau menengok
hewan itu, beliau tahu, ada sesuatu yang hendak disampaikannya pada
beliau. Benar. Ketika beliau mendekat, induk domba itu melaporkan bahwa
dia tertangkap oleh pemilik pekarangan itu dan kini, seperti dapat
dilihat, dia terikat tak berdaya. Padahal dia harus menyusui
anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Ini sudah mendekati tengah hari,
saat mereka minum.
Rasulullah SAW mengerti apa yang
diinginkannya. Beliau bertanya—untuk meyakinkan sikapnya—apakah jika
diberi izin kembali sebentar ke hutan untuk menyusui anak-anaknya, dia
mau berjanji untuk kembali ke sini, dan hewan itu menjawab: “Saya
berjanji.” “Apakah kau bersedia memenuhi janji itu?” “Saya bersedia.”
“Kalau pemilik kebun ini memberimu izin menyusui anak-anakmu yang
kehausan itu, apakah kau tidak lupa pada janjimu?” “Tidak. Aku tidak
akan melupakannya.
” Dengan jaminan Rasulullah sendiri, tuan
pemilik kebun itu percaya pada si induk kambing. Pendeknya, dia boleh
pergi sebentar. Dia percaya hewan itu tak akan ingkar janji. Memang
benar. Dia berlari sekencang- kencangnya menemui anakanaknya, dan
memberi mereka minum hingga masing- masing puas. Sesudah itu induk
kambing itu kembali. Rasulullah gembira sekali.
Beliau sayang
pada hewan yang baik hati ini. Kepada pemilik kebun itu beliau
menanyakan, apakah induk kambing hutan ini boleh dibeli. “Rasulullah .
Bagaimana aku bisa bicara mengenai jual beli tentang sesuatu yang
menarik hati Rasulullah?” “Bagaimana maksudmu? Aku tidak jelas,” jawab
Rasulullah. “Maksudku, jika benar Rasulullah tertarik pada hewan itu,
aku siap dan ikhlas mempersembahkan nya pada Rasulullah, tanpa bicara
mengenai jual-beli.
”Rasulullah sangat gembira. Tentu saja,
dengan terima kasih yang dalam, beliau terima hadiah itu. Adapun kepada
si induk kambing itu, beliau berkata dengan nada sangat gembira bahwa
dia boleh kembali ke hutan, hidup kembali dengan anak-anaknya seperti
semula. Kita seperti terlempar ke dalam dunia dongeng: sebuah dunia di
mana apa pun bisa terjadi. Tapi, ini bukan dunia dongeng, melainkan
tarikh— sejarah—perjuangan dan kehidupan pribadi Rasulullah.
Tentu,
dengan sendirinya, ada catatan tambahan: Rasulullah itu pemimpin rohani
atau pemimpin “langit” yang ditugaskan di bumi. Jangan lupa, tugas
beliau itu memimpin kehidupan rohani umat, tapi sekaligus pemimpin
politik, kepala negara, kepala pemerintahan yang menampilkan sosok ”good governance” dan sekaligus “clean government” sekitar lima belas abad lampau, yang di sini, sekarang ini, masih kita perdebatkan. Formula “good governance” itu bahkan masih kita rumuskan .
Betul,
disana sini sudah kita coba laksanakan sebagai proyek rintisan, proyek
percobaan, untuk menjajaki adakah kita memiliki kemampuan yang
dibutuhkannya. Alhamdulillah, kita punya. Di sana sini kita memperoleh
hasil yang kita inginkan. “Good governance” dan gagasan mengenai “clean government” dua-duanya memerlukan kehadiran sosok pemimpin yang adil. Syukur juga bijaksana.
Kita, yang sudah agak gembira melihat hasil-hasil rintisan mengenai “good governance” itu, sebagai proyek kebudayaan pada tingkat “grass-root”
di masyarakat kita, tiba-tiba, di dalam kehidupan tingkat atas, yang
bermain kebijakan dan merumuskan pilihan-pilihan politik, kita dirundung
rasa kecewa berkepanjangan. Pemimpin demi pemimpin, pada tingkatan
birokrasi yang berbeda-beda, di wilayah operasional yang juga dan
berbeda-beda, hampir tak ada yang memiliki sifat adil, apalagi yang
bijak.
Konvensi dalam suatu partai politik, untuk memilih
pemimpin— katanya—yang adil, bersih, dan demokratis, sesuai tuntutan
konstelasi politik internasional maupun kebutuhan lokal” kita sendiri,
apakah ini artinya? Kita menjaring calon pemimpin bangsa, dari kalangan
putra-putri kita sendiri? Kita percaya pada idiom ini: pemimpin bangsa,
dari putra-putri kita sendiri? Kita percaya pada lembaga survei yang
selalu bisa menjawab secara instan setiap keperluan politik, dari suatu
pihak, termasuk untuk sekadar membangun citra “sontoloyo” yang durhaka,
dan memalsu kebenaran ilmiah?
Kita percaya pada lembaga survei
baru, yang gagah berani bicara—di tengah kegusaran kita yang nyata,
karena sukarnya menemukan pemimpin yang baik, dan dia tiba-tiba bicara
dengan tegas, mengenai “a few good men” yang tingkat “reliability”-nya meragukan, apalagi ketika sosok “a few good men” itu diungkap satu persatu, dan kita tahu mereka semua, kita tahu latar belakang mereka.
Kalau
golongan ilmuwan— lain lagi yang agak palsu, dan hanya pura-pura
ilmuwan— juga bohong pada publik demi uang, kepada siapa kita bertanya
tentang kebenaran? Dalam situasi memalukan seperti ini, apa mau dikata
kalau para pemimpin resmi yang mengendalikan pemerintahan ini juga
bohong, korup, dan menodai dasar negara kita dan tujuan kita bernegara?
Di mana gagasan mengenai pemimpin yang adil itu kita peroleh? Mungkin
kita tak punya pemimpin seperti itu. Kita tak punya.

0 komentar:
Posting Komentar